“Monopoli”, How hard to find you

Bandung, 26 November 2011, Berawal ketika saya dan teman-teman UKM lainnya sedang pergi makan malam di Angkringan depan kampus ITB. Pada saat makan, kami saling bercerita tentang kejadian-kejadian lucu dan menarik pada saat kecil. Masing-masing dari kami saling berbagi cerita tentang pengalaman lucu dan menarik pada masa kecilnya. Ada yang bercerita tentang sering berkelahi di kelas, kena marah sama guru, dan permainan yang menarik pada masa kecil. Singkat cerita, pembicaraan kami mengarah kepada permainan yang amat digemari dan senang untuk dimainkan pada saat kecil tersebut. Pembicaraan kami akhirnya menuju pada satu permainan, yaitu Monopoli. Siapa yang tidak tahu coba dengan permainan yang satu ini. permainan yang amat digemari dan sambil mengasah otak. Kami pun saling bercerita kesenangan yang dirasakan saat bermain monopoli tersebut. Akhirnya salah satu dari kami mengusulkan untuk mencari monopoli tersebut dan langsung bermain monopoli tersebut.

Kami semua langsung setuju karena ingin mencoba kembali keseruan saat bermain monopoli tersebut. Kami langsung beranjak dari angkringan untuk mencari monopoli tersebut. Tujuan pertama kami untuk mencari monopoli tersebut adalah di simpang Dago. Kami berenam pun segera pergi kesana unutuk mencari monopoli tersebut. Ternyata sampainya disana, toko yang kami tuju teryata sudah tutup. Yah maklum saja, soalnya hari pada saat itu telah menunjukkan pukul 23.15 WIB. Kami pun melanjutkan pencarian ke Jalan Dipati Ukur. Kami menelusuri jalan Dipati Ukur tersebut dan menyakan setiap toko yang berada dijalan tersebut. Tetapi dari sekian banyak toko yang kami tanyaii, tidak ada satu pun dari mereka yang menjual monopoli.

Kami sempat putus asa untuk mencari monopoli tersebut. Kami menemui Warteg di dekat DU dan meutuskan untuk makan dahulu. Setelah makan, Andra pun menyarankan untuk mencari monopoli tersebut di derah Tubagus Ismail, denga harapan masih ada toko yang buka menjual monopoli tersebut. Kami pun segera menaiki angkot menuju Simpang Dago kembali. Sesampai di simpang dago, kami langsung menuju ke Tubagus. Satu per satu toko yang masih buka kami tanyai, tapi jawabnya tetap saja tidak ada menjual monopoli. Sampai-sampai salah satu teman saya menanyakan kepada pedagang toko kaki lima yang jualan rokok, tentang monopoli tersebut. Tetu saja pedagang nya agak tertawa sedikit tentang bertanya membeli monopoli di toko kaki lima yang notabene menjual rokok.

Kami pun sampai di toko terakhir yang masih buka pada saat itu, Terlihat dari luar toko tersebut menjual beraneka ragam mainan anak-anak. Kami pun langsung bertanya pada pedagang yang menjaga toko tersebut. Dan ternyata di toko tersebut ada enjual monopoli. Betapa senangnya hati kami pada saat itu. Kami langsung saja membeli monopoliyang seharga Rp. 15.000,- tersebut secara patungan. Akhirnya kami pun langsung balik ke sekre untuk segera memainkan monopoli tersebut. Kami bermain sangat lama pada malam itu, yaitu sampai pagi harinya. Jarang-jarang ketika mejadi mahasiswa saat ini dapat merasakan kesenangan tersebut, hehe😀

Dan pada pagi harinya kami tertidur pulas semua setelah main monopoli semalaman, haha😀

 

Kita tidak akan pernah merasakan kesenangan yang sama pada saat kecil dulu di waktu kita sekarang, kita cuma hanya bisa mengenang dan mengingat kesenanga tersebut



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s